Tetes Embun di Irian Barat

‘Mazz,… mampiir.. donk. Kita kezzeepian nih. Mau atas atau bawah’ Itu sapaan yang kerap terdengar jika kita melintas di Jalan Irian Barat Surabaya.

Memang, kata Irian barat, jika ditanya kepada arek Suroboyo, maka yang terlitas adalah dua hal, pertama pasar ikan hias, yang kedua dalah kehidupan saudara kita yang Waria.

Waria adalah salah satu keagungan Tuhan dalam mencitrakan kemulianNya. Dengan adanya waria ini, dunia terasa lebih berwarna. Tak jarang mereka menjadi warga kota kelas dua, dipinggrikan, diobrak. Hal ini karena adanya stempel masyarakat bahwa waria identik dengan sex yang tidak lazim. Waria sering menjadi tumbal atas kebijakan pemerintah kota atas nama kerapian, kebersihan dan kemapanan. Meskipun sering terdengar adanya waria yang berprestasi akademis, atau fotomodel, dsb.  Ndoro Kakung termasuk yg mana ya??

‘priiiit…prrriiiitt’ begitu terdengar peluit para Satpol PP, yang rata-rata bertampang sangar itu (mirip Paman kali) maka puluhan waria yang usianya sekitar 19-31 tahun itu langsung semburat menyebar. Yang tadinya masih negosiasi dengan pengendara motor, sambil ‘nyincing’ roknya lari tunggang langgang. Yang tadinya sudah mulai grepe-grepe, langsung meloncat dan melepas sepatu hak tingginya lalu ikutan lari. Tak jarang waria yang pandai berenang, hanya demi menghindari garukan lari dan mencebur ke sungai KaliMas.

Kini justru dari mulut kreatif mereka, muncul istilah ‘Emberr… Ya Sutralah… Tajir..Nancy .. masih diSeponk.. dsb’ yang ironisnya justru dipakai oleh mereka yang ngaku gaul. Yang gak ngerti berarti gak gaul. Betulkah???

Kini tinggal kedewasaan kita dalam menghadapi mereka. Mereka juga saudara kita, sebangsa dan setanah air yang juga merasakan dampak minyak tanah yang langka.

‘Mbak, namanya siapa?’
‘Santi, tapi kalu mas nelpon siang, nyari nama Santoso ya..’
‘Waks!!’ *kabuuurr*

‘Mazzz…. beluuuumm bayhaar….’

Catatan yg mungkin terkait:


293 views

2 Responses to “Tetes Embun di Irian Barat

Leave a Reply

dhawet

293 views