Tergencet dan merah berembun

Normalnya seorang jongos (meminjam istilah pamantyo), yang ditakdirkan untuk bekerja 5 hari dalam sepekan dimulai ahad hingga jemuwah, mendapatkan hak untuk istirahat prei atas kehendak sendiri alias cuti adalah 14 hari. Lha jika kemudian karena dipaksa oleh suatu kekuasaan yang lebih besar (aka pemerintah) harus melakukan cuti masal, yang terjadi adalah total cuti saya adalah minus -4.

Bagaimana bisa?
Di pabrik tempat saya nyari duit ini, apabila cuti tahunan yang jumlahnya 14 itu sudah terpakai semua, kemudian kita masih membutuhkan tambahan cuti, maka diperbolehkan ‘utang’ mengambil hak cuti di tahun berikutnya. Nah pada tahun ini, sebelum Lebaran saya sudah ambil hak cuti saya 6 hari. Ketika hak cuti saya ‘direbut dengan paksa’ karena Lebaran yang 6 hari itu, berarti saya dianggap sudah melakukan cuti sebanyak 12 hari. Trus, beberapa hari kemarin, saya cuti lagi selama 2 hari untuk suatu urusan, diantaranya update blog. Padahal untuk hari Natal tahun ini, kemungkinan masih akan dipotong sebanyak 2 hari. Sedangkan saya biasanya cuti Natal adalah sampai dengan tanggal 31 Desemer, karena kumpul dengan keluarga.

Jika kita hitung, 6 + 6 + 2 + 2 + 2 = 18 hari. Hak cuti tahunan saya adalah 14 hari. Jadi saya terpaksa mengambil jatah cuti saya tahun 2008 sebanyak 4 hari. Lha iya… jika nanti tahun 2008 dipaksa cuti lagi karena Lebaran dan Natal, apakah saya masih bisa punya cuti?

Nah, hari ini saya mendapat sebuah kalender 2008. lalu saya mulai itung-itung, berapa cuti yang mungkin akan terpaksa harus diambil. Ah untunglah, cuti Lebaran diperkirakan hanya 3 hari, lalu Natal 1 hari. Jika saya sudah mengambil 4 ditambah cuti massal 4 maka saya masih memiliki 6 hari untuk saya pergunakan cuti. Lalu saya berhitung, cuti yang saya ajukan akhir tahun 2008 adalah 4 hari (sampai 2 Jan 2009). Jadi saya masih bebas menggunakan 2 hari. Aha… lumayan lah.

Tetapi, setelah dirunut dari bulan ke bulan, ternyata banyak Hari Tergencet Nasional (HTN) yang disebabkan karena Hari Raya.Tidak kurang sebanyak 4 hari kerja. Lha, ini masalahnya. Apabila penguasa nanti menetapkan semua hari raya yang menyebabkan HTN itu harus cuti terpaksa lagi, maka saya tidak akan memiliki jatah cuti. Jika saya harus khitanan, mantu, melayat di luar kota, maka harus utang cuti lagi. Halah!!

Inilah repotnya kalau jadi jongos. Seandainya saya masih kuliah, saya bisa manfaatkan HTN dengan sebaik-baiknya tanpa takut merugi. Mungkin mudik, molor, kencan, ngeblog tanpa merasa kuwatir apapun. Tetapi hal ini tidak berlaku buat jongos yang satu ini. HTN bagi dia tetap libur dan ngeblog terus.

Bagi anda yang bukan jongos, dan seorang yang madeg pandhito, atau pengembara, silakan merencanakan libur panjang anda dengan melihat almanak 2008 berikut ini. Anda sudah memiliki rencana memanfaatkan Hari Tergencet Nasional?

Catatan yg mungkin terkait:


905 views

4 Responses to “Tergencet dan merah berembun

  • 1
    Adri
    November 20th, 2007 08:12

    Iya bener banget tuh mas. Saya juga kehabisan jatah cuti tahun depan. Teman saya bahkan parah karena cutinya minus 8. Kasihan sih. Tapi itulah negara kita.

  • 2
    Paman Tyo
    December 5th, 2007 16:56

    dari dulu saya tetap jongos. tenan iki.

  • 3
    AG. Syam
    December 14th, 2007 10:18

    Pertama salam kenal dulu ah….
    Tadinya saya sudah berencana untuk jalan-jalan keliling Jakarta (sejak lahir sampai gede begini, belum semua tempat saya kunjungi) bersama keluarga, tapi terpaksa saya urungkan, karena situasinya nggak memungkinkan: musim hujan, banjir, jalanan makin macet, bbm naik lagi…Jadi mendingan ngeblog aja deh

  • 4
    yang sedang menikmati liburan..
    December 26th, 2007 15:49

    inilah enaknya kerja di sekolah,libur banyak,dan g urusan dgn libur pemerintah..hehe..salam kenal..

Leave a Reply

dhawet

905 views