Tenda Parung berembun
Kembali, kesedihan merayap di hati. Di sela-sela kesibukan kantor, aku dapat sms yang berkata coba buka situs ini. lalu akupun mulai membuka Opera dan menuliskan alamat yang diberikan teman saya di sms tersebut. Ah… kembali, aku tersayat melihat kenyataan ini. Kembali dan kembali lagi terjadi di bumi in, di tanah ini, di negara ini. Apakah yang sebenarnya ada dalam benak dan pikiran mereka? Apakah yang sebenarnya terjadi di bumi pertiwi ini? Dulu, jaman mpu Gandring, sampai Raden Wijaya, jaman Dandang Gendhis hingga rakryan Gajah Mada hingga sampai ke masa prabu Mangkubumi, tak pernah tercatat hal yang seperti ini. Orang memaksakan orang lain untuk menuruti kemauannya dan dan menuruti aturan yang dibuatnya. Jika tidak mungkin melakukan secara hukum maka yang terjadi adalah anarkhi dan ‘perkosaan’ psikis berupa teror dan cemooh. Hmm… Oh, aku kehilangan harmonisasi hidup. Embun pagipun enggan menetes, karena kearifan itu sudah hilang di bumi pertiwi ini. Kutipan dari milis dan email yang saya terima, semakin menegaskan kondisi bangsa ini yang sakit parah. Tidak lagi bisa melihat persaudaraan sebangsa sebagai kekuatan negara ini, tetapi seolah harus terjadi bahwa kita harus dipisahkan hanya karena beda keyakinan. “Ya Allah, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat itu….” Kutipan lain:
Kronologi ini disusun oleh DPP Gereja St. Joannes Baptista, Parung. 1. KRONOLOGI 2. “AKSI DAMAI” FKRM JF 3. 22 Maret 2008 4. Paskah di Gereja Yohanes Baptista Bubar. TempoInteraktif ———— ——— —– *A. Informasi Awal* - Sejak 1977 hingga kini 2008, Gereja Katolik, Parung tidak pernah memiliki gedung gereja. - Sejak 1992 – awal Maret 2008, dengan menggunakan tenda, misa dan aktivitas rohani diadakan di lapangan terbuka milik Bpk. Felix Juhari di Lebak Wangi, Parung. - Tahun 1990-1993 Gereja berupaya untuk mempunyai tanah di Tulang Kuning. Akhirnya Gereja memiliki tanah sebagai bakal lokasi Gereja sekitar 7.500 M2. - Tahun 2001 Gereja hendak mendirikan Gedung Serba Guna (ada IMB), namun digagalkan oleh aksi massa Ikatan Remaja Masjid (Irmas), Parung. - Februari 2005, Gereja berniat Paskahan di Tulang Kuning. Paskahan tersebut digagalkan oleh aksi sekelompok orang yang tidak jelas identitasnya. Mereka adalah lawan politik dari Kepala Desa Waru (Tulang Kuning ada di desa Waru) yang memenangkan Pilkades. Menurut mereka kemenangan Kades (Bpk Toing Ariyanto) karena didukung dananya (80 juta) oleh Gereja. - Gereja terus bersosialisasi dan berhubungan dengan warga masyarakat dan aparat pemerintah sekitar Tulang Kuning. Aktivitas sosial non keagamaan (posyandu, bakti sosial, olah raga) terus digalakkan. - 1 Februari 2007, Gereja mengajukan permohonan IMB kepada Bupati Bogor. Hingga kini belum ada jawaban! - Agustus 2007, Misa Agustusan berlangsung di Tulang Kuning dan lancar. - Sejak Agustus 2007, Misa sore sudah bisa berlangsung aman di Tulang Kuning. - 24 September 2007, ada Misa HUT Paroki di Tulang kuning. Aman dan kondusif. Umat yang hadir sekitar 1.000 orang. Parkir dikelola oleh warga muslim setempat dan keuangan parkir diperuntukkan bagi mereka. Setelah acara Agustusan berlangsung aman, aparat keamanan (Danramil 2111/Parung, Bpk Wibowo) dan aparat pemerintah (Camat Kec. Parung, Bpk Roni Sukmana, Msi) menganjurkan agar acara-acara besar seperti Misa umat bisa diadakan lagi agar masyarakat terbiasa dan mengakui keberadaan jemaat Katolik. - Misa Tahun Baru 2008, berlangsung aman(hadir juga oleh Danramil, Kapolsek). - Selama pekan suci, 16 - 23 Maret 2008, Gereja berniat lagi Paskahan di Tulang Kuning setelah berkoordinasi dengan aparat keamanan dan aparat pemerintah serta melibatkan umat non Katolik sekitar Tulang Kuning (menangani keamanan dan perparkiran) . Upacara Minggu Palma (16 Maret), Kamis Putih (20 Maret), dan Jumat Agung (21 Maret) semua berjalan lancar, aman. Namun untuk Upacara Malam Paskah dan Hari Raya (Minggu) Paskah digagalkan oleh aksi demo Forum Komunikasi Remaja Muslim “Jamiul Fataa”, Desa Waru Induk, Kec. Parung. - Malam Paskah (22 Maret) umat Paroki “kocar-kacir” mencari gereja Katolik terdekat agar bisa Misa Malam Paskah sesuai anjuran Pastor Alfonsus Sutarno, PR. Di Tulang kuning sendiri tetap diadakan Misa Malam Paskah dalam ruangan yang ada. Dengan derai air mata, 100 umat ikut Misa Malam Paskah dipimpin Pastor Alfonsus Sutarno, PR. - Minggu (Hari raya) Paskah, 23 Maret 2008 Misa Paskah diadakan di Kapel Susteran OSF (Marsudirini) , Telaga Kahuripan, Parung kurang lebih 10 km dari Tulang Kuning. - Kemana kami misa selanjutnya? ……. Hanya Tuhan yang tahu.
Dan ini lanjutannya:
*B. “Aksi Damai” FKRM JF* Sekitar jam 09.00 Gereja menerima fotokopi surat yang ditujukan kepada Kapolsek Parung dari Forum Komunikasi Remaja Muslim “Jamiul Fataa” (FKRM JF), nomor 11/FKRM JF/III/2008. Surat itu Gereja terima dari polsek Parung. Surat itu berisi pemberitahuan kepada Kapolsek Parung bahwa FKRM JF akan mengadakan acara aksi damai dan orasi pada Sabtu, 22 Maret 2008 pukul 12.30-18.00 di lokasi tanah Gereja Katolik (Tulang Kuning). Aksi damai ini akan mengerahkan sekitar seribu (1.000) massa dan bertujuan untuk menolak segala bentuk kegiatan dan pembangunan Gereja Katolik. Sejak Gereja menerima berita di atas, Gereja langsung berkoordinasi dengan umat untuk mengantisipasi aksi massa tersebut (sekaligus mempersiapkan pelaksanaan upacara Malam Paskah). Umat Katolik yang berkumpul saat itu sekitar 75 orang laki-laki. Mengingat masih ada waktu menuju jam 12.30, Gereja terus mengupayakan agar ada dialog antara Gereja dan pendemo. Yang mengupayakan adanya dialog adalah Badan Pembina Masyarakat (Babinmas) dan Badan Pembina Desa (Babinsa). Namun upaya dialog ini menemukan jalan buntu karena penanda-tangan surat permohonan aksi damai (Abdul Malik, Selamet Darmanto, dan Drs. Nasim Jale) sedang sibuk dan tidak mau dihubungi. Sekitar jam 12-an, salah satu umat Katolik meninjau lokasi Mesjid tempat massa berkumpul. Jumlah massa yang ada saat itu sekitar 200 orang. Umat kami sempat bertanya pada warga masyarakat di sekitar mesjid itu, dan warga menyatakan bahwa mereka tidak mengenal para pendemo itu (hal ini terjadi karena pendemo berasal dari Desa Waru Jaya, tetangga Desa Waru Induk tempat Gereja Katolik). Sekitar pukul 14.30, Gereja mulai mendengar teriakan “Allahu Akbar” dan nyanyian-nyanyian berbahasa Arab, dan sesekali seruan tentang penolakan Gereja. Tidak lama kemudian, pukul 14.30 massa datang ke tanah Gereja, namun tidak bisa melewati pintu gerbang tanah Gereja karena dihadang aparat keamanan. Mereka berkekuatan sekitar 75 orang di bawah komando Haji Illyas (ketua MUI Kecamatan Parung), Nasim Jale (Pembina FKRM JF), dan Abdul Malik (Ketua FKRM JF). Demonstran terdiri dari sekitar 10 orang dewasa, selebihnya anak-anak remaja selevel SMP-SMA. Bahkan agar tidak tercerai-berai, para demonstran cilik ini dikurung dengan tali rafia. Aksi damai yang mau mereka usung ternyata diingkari. Pendemo datang hanya untuk memaksakan kehendak, mengancam akan bertindak anarkis, dan siap mati saat itu bila tuntutan mereka tidak terpenuhi. Tuntutan pertama adalah agar Gereja membongkar tenda (sebagai catatan, sejak 1977 hingga saat ini, Maret 2008, Gereja tidak pernah punya gedung gereja. Misa/ibadah dan segala aktivitasnya hanya dinaungi tenda di lapangan terbuka. Sejak 1992 tenda itu terpasang di Gardent Restoran di Lebak Wangi, Parung - tanah lapang milik keluarga Bpk. Felix Juhari -. Dan sejak Pekan Suci,16 Maret 2008, Gereja memberanikan diri untuk misa dengan tenda di tanah lapang bakal Gereja Katolik di Tulang Kuning, Parung. Tentu saja setelah Gereja bersosialisasi dan hidup bersama di tengah masyarakat Tulang Kuning dan berkoordinasi dengan Tripika dan aparat pemerintah). Ketika Gereja tidak mengindahkan tuntutan pendemo untuk bongkar tenda, mereka semakin nekat dan semakin keras berorasi membakar massa, bahkan akan merangsek masuk lokasi tanah Gereja untuk membongkar sendiri tenda yang terpasang. Akhirnya untuk menghindari kontak fisik, terpaksa Gereja membongkar tenda itu. Saat Gereja membongkar terpal tenda, demonstran cilik itu tertawa penuh kemenangan. Dengan terbongkarnya tenda, otomatis tuntutan kedua mereka agar tidak misa/beribadah di tanah Tulang Kuning, mereka peroleh. Sementara pembongkaran tenda berlangsung, salah satu umat Katolik meminta dialog dengan pendemo. Lalu perwakilan demonstran (Illyas, Jale, Atmawijaya) masuk ke lokasi tanah Gereja, namun bukan untuk dialog, malah mereka mengeluarkan tiga lembar kertas surat pernyataan yang telah mereka siapkan. Pihak Gereja dipaksa untuk menandatangai surat yang berisi bahwa Gereja menyetujui pembongkaran tenda, peniadaan segala bentuk peribadatan di tanah Tulang Kuning, dan penghentian segala bentuk upaya perizinan membangun Gereja. Awalnya Gereja yang di wakili Bapak FX Sidi Harsoyo (Ketua Panitia Pembangunan Gereja) dan Bapak FX Rahyono (Wakil Dewan Pastoral Paroki) tidak mau menandatangani surat pernyataan itu. Namun, Illyas pergi hendak menemui dan membakar emosi massa. Akhirnya, demi keselamatan umat Katolik (terutama ibu-ibu dan anak-anak) yang sudah mulai berdatangan untuk misa/ibadah Malam Paskah (jam 18.00), kami hendak menandatanganinya. Namun ketika Bapak FX Sidi Harsoyo dan Bapak FX Rahyono sudah memegang pulpen dan siap untuk tanda tangan, salah satu umat Paroki berteriak, “Jangan, Pak! Itu berarti kita tidak punya wibawa”. Akhirnya Bpk Sidi dan Bpk Rahyono urung menandatangani surat pernyataan. Setelah tidak terjadi penandatanganan surat itu, H. Illyas kembali menemui massa hendak mengajak massa untuk bertindak anarkis. Untunglah, Drs. H Namar Soemantri (Satpol PP Kec. Parung) mampu menyelesaikan persoalan ini dengan mengatakan bahwa surat pernyataan itu akan dibawa ke Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bogor. Dengan demikian, surat pernyataan itu tidak Gereja tandatangani. Jam 17.30 massa membubarkan diri setelah mereka melihat sendiri tenda terbongkar dan kemungkinan untuk misa/beribadah tidak mungkin terjadi, dan soal penandatanganan surat pernyataan akan dibahas di FKUB. Karena tenda sudah terbongkar dan tidak mungkin lagi misa/beribadah Malam Paskah di Tulang Kuning, maka Pastor Alfonsus Sutarno, PR (pastor Paroki) menganjurkan umat untuk Misa di Gereja Katolik (Paroki) terdekat. Mereka ada yang pergi ke gereja Katolik di Cinere, Depok, Bogor, dan Cibinong. Namun ada banyak orang tua dan anak-anak yang tidak bisa Misa Malam Paskah dan merayakan pesta kemenangan Yesus Kristus atas maut. Sementara itu, orang-orang yang masih *standbye* di tanah Tulang Kuning, diajak oleh Pastor Alfonsus Sutarno, PR untuk Misa Malam Paskah sederhana di salah satu ruangan yang ada di Tulang Kuning. Dengan tangisan keprihatinan, umat Katolik itu, merayakan pesta kemenangan Yesus atas maut. (disusun oleh DPP Gereja St. Joannes Baptista, Parung)
Catatan yg mungkin terkait:
350 views
March 29th, 2008 10:32
Ya masih ada yang berpikir bahwa agama kita yang paling benar…dan agama lain itu kafir.
* sedih
March 29th, 2008 13:28
*Ikutan sedih*
Kenapa selalu berlomba mencari yang paling benar??
Kenapa tidak berlomba menjadi terbanyak mengharumkan nama negara dan bangsa?
Lihat aja, justru orang-orang yang dibilang ‘kafir’ yang sering terlihat, seperti: Susi Susanti, Alan B, Yohanes Surya, dsb.
Jika mereka kafir, kenapa mereka justru diberkati dengan anugerah melimpah seperti itu??
Orang-orang itu harus Ngaca… !!!
March 31st, 2008 16:16
Hidup Adalah Pilihan
Kehendak bebas adalah berkat dan rahmat yang diberikan Tuhan, maka bersyukurlah kita karena sampai saat ini masih dapat merasakan betapa nikmatnya bisa memilih sendiri jalan hidup yang mau kita jalani. Setiap pilihan yang telah kita pilih memiliki resiko sendiri-sendiri yang harus kita pertanggungjawabkan, resiko yang seharusnya mampu kita hadapi dikemudian hari dengan jiwa yang besar, karena hidup adalah pilihan.
Ketika kita memilih untuk beragama atau tidak, Tuhan tidak memaksa kita untuk percaya atau tidak, karena kita diberikan kehendak bebas untuk memilih yang baik atau yang jahat, yang lurus atau yang berliku, yang terang atau yang gelap, semua pilihan diberikan kepada siapapun yang percaya Tuhan maupun tidak.
Baik orang yang percaya Tuhan atau tidak masing-masing diberikan kehendak bebas yang sama plus hukum-hukum alam yang mengikatnya. Jika seorang yang belum pernah mencuri, memutuskan untuk mencuri, maka apapun yang telah diperbuatnya itu membuat hatinya tidak tenang, jika kita secara tidak sengaja menyakiti atau mengecewakan orang-orang yang kita cintai, maka hati kitapun bersedih, jika seorang yang belum pernah membunuh dan memutuskan untuk membunuh, maka hatinya menjadi tidak tenang dan ketika kita melihat orang-orang yang kita cintai meninggalkan kita, maka hati kita akan bersedih.
Hati kita bagaikan alarm yang menjadikan kita terikat pada hukum-hukum alam yang tidak dapat kita hindari sebab-akibatnya, walaupun kita memutuskan untuk tidak percaya kepada hukum-hukum alam, alarm akan terus berbunyi saat kita berjalan menentang hukum alam, dan alarm akan berhenti berbunyi lagi jika kita memutuskan untuk mengabaikannya. Itulah sebabnya mengapa ada orang yang sudah mencuri beberapa kali akan tidak merasakan adanya rasa bersalah dan takut lagi, karena alarmnya sudah menjadi mati.
Berbahagialah orang yang telah gelisah karena sesuatu yang telah dilakukannya, karena itu menandakan alarmnya masih berfungsi. Alam akan menghukum kita jika kita berjalan melawan hukum-hukumnya, bencana badai akan kita tuai jika kita menaburkan banyak angin di dalamnya. Alam tidak perlu menuliskan hukum-hukumnya ke dalam kertas-kertas panduan maupun buku-buku dengan jilid yang tebal-tebal, karena hukum-hukumnya sudah ditulis dengan lengkap di tiap-tiap hati manusia.
Jadi jika seseorang bilang “Buku saya yang paling benar !!!”, maka seorang yang lain lagi akan bertanya : “Kata siapakah bukumu paling benar ???” , maka akan dijawabnya pertanyaan itu : “Karena di dalam buku saya, berkata demikian… “ dan orang yang lainnya pun akan berkata : “Tentu saja buku saya yang paling benar !!, karena di dalamnya dituliskan bahwa buku ini benar adanya ….”
Mengapa kita harus membunuh mati hati kita hanya karena mempertahankan buku yang sudah lama tertulis di dalam hati kita masing-masing.
Kehendak bebas sudah diberikan kepada kita sebagai anugerah yang tidak ternilai, diberikan untuk disyukuri, dinikmati dan dijaga.
Kebenaran tidak dapat dipaksakan, karena kita hanyalah debu dari luasnya dimensi jagat raya. Kita hanya mahluk tidak sempurna dan terbatas yang senantiasa mengemis-gemis berkat dan belas kasihan dari yang Empunya alam. Kita tidak dapat menyelami dasyatnya kekuatan alam, apalah kita yang dengan segala keterbatasan dan ketidaksempuraan telah menunjuk jari sesama kita dengan sebutan “Sesat”.
Cinta adalah bahasa universal yang menunjukkan bahwa kita masih mempunyai hati, tidak perlu membaca buku dan membaca manual book yang tebal-tebal untuk dapat memberikan dan merasakan cinta itu di sekitar kita. Cinta adalah ungkapan perasaan yang tertulis indah di tiap hati manusia. Orang boleh berkata, “Saya tidak membutuhkan cinta, karena cinta membuat saya lemah…”, cinta seperti tanaman yang jika dirawat dan dipupuk akan tumbuh subur dan menghasilkan buah, tapi jika dirusak, dibiarkan, diabaikan dan disia-siakan, akan mati, layu dan membusuk, sama seperti alarm yang sudah tidak dapat mengeluarkan bunyi lagi, demikian juga hati yang sudah mati. Buah yang baik, lebat dan manis akan tumbuh pada tanaman yang sehat dan terawat, alam tidak akan mengingkari hal ini, walaupun sehebat apapun kita berargumentasi untuk membantahnya.
Salam dari anak bangsa, yang merindukan kedamaian di Indonesia,
Gunung Sindur, 31 Maret 2008,
Ads