Rumah Bung Karno berembun

Hari ini, saya mendapati sebuah berita yang cukup membikin saya tercekat. Kaget, sedih, eman. Bagaimana tidak? Rumah itu dijual. Sebuah rumah yang terlihat cukup kokoh dengan arsitektur jaman kolonial, tempat dimana saya merasakan aura seorang humanis sejati, pemimpin sekaligus tokoh dunia yang disegani. Tempat tumbuh dan berkembangnya Soekarno, Putra Sang Fajar.

Istana Gebang Dulu, semasa saya masih berada di sekolah dasar, guru olah raga (dulu dinamakan Pendidikan Djasmani) saya sering mengajak untuk tour-de-city, dimana kami semua diajak keliling kota dengan kostum olahraga. Start dimulai dari sekolah saya SD Katholik Yos Sudarso di jalan Cepaka, bergerak kearah jalan Melati, lalu menuju ke arah Kebon Rodjo. Dari situ pulang melewati jl Sultan Agung, dimana terletak rumah itu. Kami biasanya menyempatkan diri beristirahat dan berteduh dibawah pohon beringin atau pohon salam yang ada di halaman itu. Biasanya di terdapat orang jual Es Pleret.

Sebelum dibangung dan dipugar, dulu rumah itu tampah bersahaja dan menyatu dengan para tetangganya. Dengan bangunan utama yang terlihat kokoh dan halaman yang sangat luas, kami semua bisa lari-lari bermain ditanah berpasir halus. Ketika pulang, saya mendapati ibu saya cemberut melihat seragam olahraga tidak lebih halnya seperti kain lap. Ujung-ujungnya nasehat untuk hidup bersih menggelontor masuk ke kepala saya.

Rumah itu kini sangat megah, dan orang-orang di Blitar menyebutnya sebagai ‘Istana Gebang’ atau ‘Ndalem Gebang’. Ahli waris rumah itu adalah ibu Sukarmini Wardoyo (aka bu Wardojo). Tempat dimana setiap tahun dilaksanakan haul Bung Karno, Grebeg Pancasila dan kegiatan-kegiatan sarasehan untuk mengenang dan mengejwantahkan ajaran Bung Karno.

Kini rumah itu terancam dijual. Ahli warisnya udah generasi ke tiga. Cucu dari bu Wardojo. Rumah itu saksi sejarah, dimana pernah lahir dan hidup seorang yang sangat disegani tidak saja di negerinya sendiri, tetapi juga di asia, bahkan dunia. ? Bahkan sejarahnya pun tak lagi berpihak ke dia.

Adakah yang peduli?? Dimanakah pemerintah selaku penjaga warisan sejarah itu berada? Tidak lagikah peduli dengan bangunan bernilai historis sangat tinggi ini?

Mungkinkah ada yang mau peduli dengan sejarah bangsa ini? Mungkin para blogger perlu membikin petisi kepada pemerintah. Mumpung ‘orang itu’ sudah mangkat.

Haruskah?

Catatan yg mungkin terkait:


232 views

Leave a Reply

lupis

232 views