Pulau Sempu di Sendang Biru berembun (part 1)

Keinginan itu

Dinginnya udara malam hari waktu itu, Dec 22, 2007 23:05, ketika sedang enak-enaknya tidur mendengkur, terdengar sepenggal lagu ‘Prissoners in paradise’ milik Europe dari ponsel saya. Ringtone yang menandakan panggilan dari teman sekantor.
“Ayo berangkat, teman-teman kesasar nih. Kamu ditunggu di pertigaan karanglo, pabrik Bentoel” suara di seberang sana. Rupanya pak Ucup yang menelepon.
“Haa… errggh… hhooaahmm…” aku masih kiyep-kiyep
“Walah, malah ngorok.. cepetan loh..” katanya.
“Iya-iya… aku pipis dulu”

Begitulah awal pembicaraan yang kelak mengantarkan saya menuju tepi selatan pulau jawa, Pantai Sendang Biru. Letaknya di Malang Selatan, tepatnya dusun Sendangbiru, desa Sitiarjo, kecamatan Sumbermanjing, kabupaten Malang. Ada 15 sepeda motor yang menunggu saya di bawah pohon di tepi jalan raya malang-singosari, malam itu. Mereka semua pada manyun karena memang tidak tahu arah menuju pantai ketika masuk kota Malang. Terpaksalah saya yang tanpa persiapan apapun, meluncur ke posisi.

Kami semua, rekan-rekan se-kumpeni, memang memiliki rencana mengadakan motor-touring ke pantai Sendang Biru pada hari itu, untuk mengisi liburan Natal dan Tahun Baru ini. Saya, sebagai penghuni kota Malang, kebagian tugas mempersiapkan tempat istirahat malam hari itu. Direncanakan teman-teman datang sekitar jam 21.00, kemudian istirahat, dan paginya berangkat ke lokasi. Tetapi, perkiraan meleset, dan plan B adalah langsung menuju ke arah Kepanjen, tempat rekan yang lain, simbok Maria. Sampai Kepanjen jam sudah pukul 01.15 dinihari.

Di tempat simbok, disuguhi goreng tempe kacang, dan pisang goreng. hmmm.. terasa lezat ditambahi dengan cabe hijau sebagai pelengkap, dan minum teh hangat di malam yg kelewat dingin itu. Beberapa anggota turing sudah mulai menggelosoh dan tertidur.

Lalu ketua tim yang tadinya jadi voor-rider malang menyerahkan tongkat estafet ke saya. Lhahh!! Dikira saya tahu jalan apa?? “Paling tidak dirimu punya feeling arah lebih baik dari kami. Masio nyasar sik ketemu dalane (meski kesasar, masih bisa ketemu jalan)”. katanya. Halah!

Kondisi fisik reka-rekan sudah menurun drastis. Mungkin hanya sekitar 50% saja. Hal ini karena plan berubah. Seharusnya jika team dari Surabaya sempat beristirahat dulu, mungkin kondisi bisa sedikit lebih baik. Jika dihitung, berangkat dari Surabaya pukul 22.00, sampai di malang 23.30. Jarak tempuh yang seharusnya 2 jam, jadi 3.5 jam. melelahkan. Sampai di Kepanjen, seharusnya minimal isirahat 4–5 jam, tetapi dipaksakan 2 jam terus langsung berangkat. Pukul 03.30 kami semua berangkat melanjutkan touring ini.

Dari kepanjen saya mengarahkan motor melewati desa Panggung, melalui jalan raya kepanjen-gondanglegi. Ketika melalu rute inilah, baru saya tahu bentuk stadion Kanjuruhan, yang sebagai kandang tempat bermain klub kebanggaan arek malang, Arema FC itu. Membayangkan kemegahan stadion tersebut, saya jadi ingat teman saya, “Yok opo, wis nakam tah? nawake hewed wingi ketam mari ublem rumah sakit. Jare tikas unap thok!”. Halah, jadi mengenang masa SMU. Bahasa tersebut hanya dimengerti oleh orang malang atau yang sudah lama tinggal di malang dan membaur. Kami menyebutnya bahasa walikan.

Melewati daerah Gondanglegi, terdapat sebuah persimpangan. Dengan sekilas saya melihat bor lalu lintas tanda arah, bahwa arah yang hendak dilalui adalah sedikit menyerong ke kiri. Maka dengan kewenangan seorang voor-rider, saya belokkan motor ke kiri. Yang terjadi adalah, jalan ini justru memutar sekitar 20 km. Gebleg! Harusnya saya langsung lurus menuju Turen (memang jalannya agak bengkok ke kiri), tetapi justru berbelok menikung di pertigaan ke arah utara menuju PG Krebet. Tapi untungnya teman-teman yang lain adalah orang luar kota, yang manut-manut saja ketika saya kesasar. Dianggapnya ini jalan yang benar. Padahal seandainya mereka tahu, dari Gondanglegi ke Turen hanya menempuh 8km. Hihi, kasihan mereka sudah dibohongi voor-rider sok tahu.

Pos Terakhir

Kami berhenti sebentar di Turen, setelah PT Pindad divisi alutsista, untuk mengisi bahan bakar di pompa bensin terakhir. Lalu kami belok kanan menuju arah Sumbermanjing. Jalan sudah dilapisi ‘aspal-korea’, (sebutan generik untuk aspal hotmix), sayangnya banyak terdapat pasir dan tanah yang berjatuhan dari truk pengangkut pasir. Jadinya kami agak hati-hati dan kecepatan tempuh tidak melebihi 45 km/jam. Suatu kecepatan yang hanya separoh dari seharusnya.

Dalam perjalanan, sempat terjadi beberapa halangan. Rekan kita juragan 3GP, mendapat musibah. Ban belakangnya bocor. Tapi rupanya nasib harus membuat halangan itu bertambah berat, tukang ban masih amatiran. Untuk ganti ban diperlukan waktu 2 jam penuh. Musibah pertama.

Pantai Sendang Biru

Tak berapa lama kami semua melanjutkan perjalanan menuju pantai sendang biru. Karena masih terhitung pagi rupanya penjaga loket sedang ke toilet, sehingga kami semua bisa masuk areal pantai tanpa harus beli tiket. Tetapi begitu kami semua istirahat, ngisis, datanglah seorang laki-laki bertanya “Berapa orang mas? Berapa motor?”. Rupanya sang penjaga loket. Kamipun harus merogoh kocek yang tadi sudah disiapkan.

Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil di seberang pantai sendang biru, yang terpisahkan selat sekitar 3–4 km lebarnya. Untuk menuju Pulau Sempu, harus menyewa sebuah perahu motor nelayan, dengan harga Rp 75.000 pp. Waktu itu semua motor dititipkan ke penduduk setempat, Pak Di, namanya. Lalu semua bersiap untuk menyeberang. Penyeberangan membutuhkan waktu sekitar 10 menit.

Sebelum berangkat menyeberang, kami sempatkan untuk mencari bekal makan siang. Di sebuah warung kamipun meminta menu ‘Tuna Bakar’. Disini sempat terjadi halangan, karena ikan tuna harus dicari ke PPI (Pusat Pelelangan Ikan d/h Pusat Pendaratan Ikan). Akhirnya didapat ikan tuna cewek, panjang sekitar 70cm, dengan bobot 6kg. Lumayan besar. Proses pembakaran memakan waktu 2 jam-an. Dengan kondisi teman-teman yang sudah setengah teler, sebagian justru tertidur di warung itu. “Lapaaarrrr…rr. Lama banget.” keluhan yang terdengar. Musibah kedua.

“Gluk..gluk…drr.drrrr.drrr….dr..!” Deru motor tempel di perahu mulai berputar, dan akupun sempat bersenandung kecil ‘Nenek moyangku, orang pelaut….’.

Selamat tinggal pulau Jawa

Tak berapa lama kami mendarat di sebuah lekuk pulau Sempu, berpasir putih. Luasnya hanya sebesar RSS tipe 36. Sekelilingnya penuh hutan bakau dan aprikot. Lalu kami mulai berjalan memasuki lebatnya hutan, menuju keindahan danau kayangan. Perjalanan melalu jalan setapak yang harus dilalui berbaris satu per satu. Jika kita berpapasan dengan rombongan lain yang sudah kembali dari danau, maka kita harus siap-siap berjalan miring.

Kondisi lapangan waktu itu habis diguyur hujan 2 hari 2 malam. Tanah sedikit berlumpur, licin dan banyak dahan atau ranting berserakan. Di beberapa tempat terdapat pohon tumbang, entah karena tua atau karena kekuatan angin. Di 500m pertama, kami mulai mendapat rintangan berupa kubangan lumpur. Para peserta turing yang kebetulan hanya memakai sendal jepit, siap-siap sandalnya tertinggal di lumpur.

Di kilometer pertama, terdapat rintangan batu karang, yang mengharuskan kami melakukan sedikit slope-climbing (istilah sendiri-red) harus extra hati-hati. Di sekitar tempat ini terdapat banyak pohon aprikot dan semacam oak. Jalan sedikit datar, meskipun tetap licin.

Sekitar 400m dari rintangan tersebut, ada sebuah sungai kecil dengan jembatan darurat yang dibikin oleh para pelintas terdahulu. Jembatan tersebut lebih mirip sebagai bambu tumbang. Hanya dua bilah bambu (entah didapat darimana), yang diletakkan begitu saja diatas sungai. Sungai ini kecil dan tidak dalam, tetapi penuh batu karang runcing. Sinar matahari tak mampu menembus lebatnya dedaunan.

Beberapa rekan kebagian tugas membawa perbekalan. Yang paling enak, adalah teman yang membawa ikan tuna. Sambil jalan, dia terus mencicip menu itu. Huh!! Tak berapa lama, debur ombak mulai terdengar di kejauhan. Perjalanan masih panjang dan melelahkan, namun sedikit menambah semangat mendengar deru ombak memecah karang.

Danau Kayangan (aka Segara Anakan)

Selepas sungai kecil itu, 15 menit kemudian, di sela-sela rimbunnya dedaunan, saya melihat suatu tempat terbuka. Semakin lama terlihat, hamparan pasir putih melingkar di tepi birunya laut. Ya, kami sudah sampai. Danau kayangan itu tampak benar-benar melegakan, setelah hampir 2 jam kita berjalan kaki. Indah banget jika terlihat dari ketinggian. Ups, ketinggian? Benar kami semua memang baru melihat hamparan pasir danau kayangan dari tebing di sisi pantai. Kami harus turun melalu tangga karang untuk sampai di tujuan.

 

Begitu kita mendarat di pasir, wahh… pasirnya lembut sekali. Ternyata di sana sudah terdapat sebuah keluarga yang juga ingin menikmati indahnya danau kayangan. Mengapa disebut danau? Danau Kayangan bukanlah sebenar-benarnya danau, melainkan sebuah anak laut yang terbentuk dikelilingi oleh karang, dimana terhubung dengan laut lepas melalui terowongan karang yang disebut karang bolong. Mirip karang bolong yang di pantai TanaLot-Bali. Anak laut ini bentuknya melingkar sehingga ada yang menyebutnya danau kayangan. Sementara penduduk setempat, menyebutnya Segara Anakan.

Kondisi fisik kami benar-benar lelah, dan beberapa teman mengalami sedikit luka-luka lecet terkena batu karang. “Bukaa,bukaa… Nasinya mana… Kecapnya mana?” Rekan-rekan sudah tidak sabar untuk mengisi perut.

Tuna sebesar itupun pulai tinggal tampak tulang dan durinya saja. Sementara dagingnya sudah bercampur sambal, kecap dan nasi dan mulai berpindah ke lambung masing-masing dari kami.

“Mas-mas.. ini ada kerupuk dan miehun goreng. Silakan dinikmati…” kami terkejut, rupanya tawaran dari keluarga sebelah. Itulah alam, ditengah pekatnya rimba, rasa persaudaraan bisa terpupuk, rasa senasib sepenanggungan bisa membentuk ikatan persahabatan. Ya kami memang senasib, menempuh jalan berliku, licin, curam, lumpur, climbing.. melelahkan.

Begitu mendapat tambahan kerupuk dan mie, kami sedikit memperhatikan keluarga itu. Dua orang laki-laki, 5 orang perempuan ditambah 2 anak kecil (sekitar umur 5 thn). Kami sempat bertanya, bagaimana anak kecil-kecil ini bisa melewati rintangan alam seperti itu? Tapi pertanyaan itu cuma mampir sebentar, perhatian lebih tertuju ke 3 orang gadis yang membikin mata kita kembali menyala terang. Mereka cantik, kulitnya kuning, bibir ranum, ceria dan ramah. Ah.. sakit dan lelah seolah hilang. (dasar mata cowok!). Lalu kamipun mengembalikan nampan itu sambil diisi sebagian irisan tuna sebagai balasan terima kasih kami. Eiit… nama cewek itu, Dia dan Luki. (Maksudnya Dia = Diawur saja dan Luki = Lukira-kira sendiri.)

(Cerita ini masih bersambung… Foto-foto lainnya menyusul)

Tags: ,

Catatan yg mungkin terkait:


908 views

4 Responses to “Pulau Sempu di Sendang Biru berembun (part 1)

Leave a Reply

sermiler

908 views