Malam, Kelam, Hening, berembun

Rintik hujan seolah enggan berhenti. Bulanpun enggan menggeliat dan menampakkan wajahnya. Kabut tipis membayang bergelayut, semakin menambah dingin dan syahdunya suasana.

Malam ini, sepanjang perjalanan dari pintu rumah menuju ke pintu gereja kathedral yang saya lihat adalah butiran-butiran air yang menetes satu per satu dan menempel erat di kaca helm saya. Motor melaju perlahan, suara jengkerik masih sayup terdengar. Anging malam benar-benar membuat telinga terasa ngilu

Kembali, saat-saat hening kali ini udara terasa amat sangat dingin, namun hati ini begitu hangat. kehangatan itu semakin terasa ketika kaki mulai menginjak tangga gereja kathedral di Jl. Ijen.

Namun malam ini terasa masih ada yang kurang… ndak ada kado. Kado yang ada hanyalah sebuah kotak penuh dengan teh ginseng korea (katanya dari perempuan yang mengidolakan diriku.. weks!). Ahh.. justru kado terindah malam ini datang langsung dari surga. Bayi suci, Kristus, sang Raja Damai.

Tiba saatnya maju menerima komuni. Kami semua antri satu per satu dengan rapi, sambil sesekali menghindari tetes air. Aku kebetulan ndak mendapat tempat di dalam gereja. Maka di halaman gerejapun jadilah. Dan tak lama kemudian lonceng berdentang 12 kali.

Selamat Natal, kawan. Salam Damai dari Malang… Hangatnya Natal kali ini semoga bisa membawa damai di hati. Bebaskan hati dari segala keluh dan hanya sukacita yang tergapai.

Catatan yg mungkin terkait:


338 views

3 Responses to “Malam, Kelam, Hening, berembun

Leave a Reply

gethuk

338 views