Jadul berembun
Jadul.. ya jadul adalah istilah yang dipopulerkan anak-anak jaman sekarang, kepada orang yang memiliki selera-selera jaman dulu, sekitar 10 sampai 20 tahun yang lalu. Selera tentang apa saja. Entah itu makanan, musik, atau pakaian.
Di pabrik saya, saya termasuk salah satu orang yang dipanggil dengan Jadul. Kenapa? Karena selera musik saya, tepatnya koleksi lagu-lagu AAC dan MP3 saya kebanyakan adalah era ‘80 dan ‘90an. Disaat para muda itu berebut mencari bajakan MP3 dari Dewa, Padi, Ungu atau Vagetoz, saya malah mengkoleksi God Bless, Power Metal, Makara, The Rollies bahkan KoesPlus dan D’Lloyd. Ketika mereka sedang heboh Linkin’ Park dan LimpBizkit, saya justru memutar The Police, Queen dan Scorpions.
Apakah salah ketika kita lebih menyukai nostalgia dibandingkan dengan euforia? Apakah salah jika kita menyukai harmoni dibandingkan trendi?
Ketika arus musik pop begitu deras mengalir di industri musik indonesia lewat BCL dan Nidji, saya justru merindukan kualitas vocal yang penuh power semacam Nicky Astria dan Harry Moekti. Di telinga saya lolongan Chester Bennington belum berhasil menggeser eksentriknya Freddie Mercury.
Seperti juga politik, selau saja ada yang harus menang dan kalah. Ada yang terpilih ada pula yang tersisih. Anak muda angkatan sekarang, boleh dikata tidak pernah mengenal produk lagu jaman dulu, apalagi pengarang atau arrangernya.
Cobalah bertanya kepada anak usia SMP atau SMA (bahkan jika perlu mahasiswa), kenalkah mereka dengan lagu ‘Tragedi Buah Apel’ (the rolies), ‘Dirimu’ (gank pegansaan), ‘Hiroshima Nagasaki’ (melky goeslaw), dan sebagainya. Atau tanyakan mereka siapa itu James F Sundah, Iwank Noersaid, Jocky S, Bagoes AA. Adakah mereka tahu?
Namun, meskipun mereka sering mengolok saya dengan Jadul, pada akhirnya teman-teman saya justru menjadikan saya rujukan untuk mendengarkan tembang nostalgia. Ketika mereka sedang membutuhkan theme-song untuk suatu event yang kebetulan dicari adalah tembang lawas, mereka selalu menekan nomor extension saya.
Suatu saat telinga mereka mulai jenuh dengan lagu-lagu baru, mereka lalu menoleh ke saya, dan iTunes saya pun mendendangkan
‘Brama Kumbara, raja Madangkara.
Punya ilmu sakti, ajian seratjiwa.
Adiknya ayu, gusti Dewi Mantili.
terkenal dengan julukan Pedang Setan
Raden Bentar putra tercinta
terlibat kasih dengan Lasmini
Mantili murka mencabut pedang
Brama tersenyum arif sekali ……..
(dinyanyikan oleh Ellie Ermawaty)
Semua pada bengong.. “Kamu masih punya lagu itu??”, “Dapat dari planet mana lagu itu??”
Ketika saya memutar lagu cipataa Ismail Marzuki, ‘Juwita Malam’ versi Kris Biantoro, adal teman sepabrik yang nyelatuk,
“Wah, lagunya Slank sudah dialih versikan ya?”
‘Gubrak!!’ saya terbeliak. Jadi ‘Juwita Malam’ itu lagunya Slank toh?? haha naif banget.
Mereka hanya tau bahwa yang menyanyikan lagu tersebut dan meledak (di jaman mereka) adalah SLANK. Sayang, banyak pelaku musik yang mengkilap di tahun dahulu, tidak berhasil menjaga eksistensinya hingga ke anak muda jaman sekarang. Relatip hanya Iwan Fals dan Chrisye yang masih lumayan berkumandang namanya. Dan blogger musikus, yang saya tahu ya mas JSOP seorang. Yang lain, belum nemu.
Diantara pembaca, adakah yang tahu siapa itu Antyo Rentjoko?
Catatan yg mungkin terkait:
222 views