China berembun

Masih ingatkan anda akan tragedi Mei 1998. Saudara kita keturunan etnis China (di jawa terkenal istilah: Cino, Taiwan, Tionghoa, Singkek, Taipeh, RRT) pada merasakan kesesakan, keresahan dan ketakutan luar biasa. Mereka disebut-sebut sebagai biang keladi keterpurukan ekonomi Indonesia. Padahal ungkapan tersebut tak lebih sebagai umpatan emosional akibat kecemburuan ekonomi.

CHINA atau CINA?

Ada beberapa catatan yang sempat nempel di benak tentang etnis yang satu ini. Untuk di bidang niaga, sepertinya di tanah air tercinta ini 68% (murni prediksi saya, bukan pakar) adalah milik etnis china. Sekitar  23% dikuasai etnis madura. Sisanya dibagi rata. Mohon jangan dipertanyakan nilai prosentase tersebut. Pastinya saya ndak bisa mempertanggungjawabkan secara empiris.

Jika kita sisihkan kenyataan tentang bagaimana para china kaya tersebut memperolah modal usahanya, kita para pribumi ini harusnya malu. Mereka bisa sukses karena mereke bekerja keras, hidup sederhana dan pelit irit, rela bekerja sendiri tanpa karyawan agar duitnya tidak dikeluarkan untuk menggaji karyawan, dan seterusnya.

“Pak.. tolong bikin lancar pinjaman kredit saya. Nanti bagian bapak adalah 5 persen”

Demikian salah satu dialog antara beberapa Cina pengusaha kepada pegawai bank bagian surveyor kredit. Jika si Cina pinjam 10 milyar rupiah, maka si pegawai dapat duit muntah sebesar 500 ribu. Hmm…

“Oke.. boss, besok akad kredit sudah terkirim. beres!” sahut si pegawai. Ia orang Jawa.

DISCLAIMER: Dialog diatas adalah imajiner. Sumber dari obrolan warung kopi sesama pegawai bank. Tidak ada yang perlu diperdebatkan keabsahannya, karena bukan merupakan generalisasi etnis china.

Logo olimpiade, diambli dari blog Dahlan IskanKembali ke masalah yang ingin saya ceritakan. Dulu…, waktu saya masih kecil, semua barang yang terbawa ke sekolah adalah ‘made in china’. Mulai dari pensil, tempat pensil, rautan, penghapus, tempat minum semua tertulis ‘made in china’. Kemudian sepeda yang saya pakai adalah merek PHOENIX, buatan china. Ibu saya menjahit baju dengan mesin jahit ‘BUTTERFLY’, juga buatan dari china. Bapak pakai silet cukur merek TATRA, buatan china. Bahkan sekolah sayapun penuh dengan orang cina. (lha wong sekolah katholik).

Saya ingat waktu itu, ibu saya yang seorang guru SD menerima pesanan kue kering sebagai tambahan penghasilan. Beliau setiap kali pergi ke toko alat-alat masak (kebetulan pemiliknya juga cina), selalu memilih barang dengan kualitas ‘Taiwan atau RRT’. Tidak mau jika barang yg dibeli adalah buatan lokal.

Satu-satunya alat yang bukan buatan RRT di rumah saya adalah radio tabung. Soal raido ini sudah pernah saya kupas.

Ada lagi yang mengherankan, begitu hebatnya pengaruh china bahkan sampai cemilan kacang saja dibikin di china. Kami menyebutnya ‘kacang shanghai’. Di tahun-tahun terakhir, muncul merek OKE, sehingga disebut kacang Oke.

Dahulu memang kota home industri yang paling terkenal di China adalah ‘Shanghai’. Saat ini sudah banyak kota lain seperti Busan, Shechuan, Nanking, Peking Beijing, dan sebagainya sebagai sentra home industri.

Sungguh sejarah Indonesia ini tidak mungkin dilepaskan dari cengkeraman China. Bagaimana tidak, asal nenek moyang kita saja diakui dari daerah Yunn-an (China Selatan). Konglomerat Indonesia dari etnis Cina. Obat dari china, Korek api dari china, outdoor plotter juga dari china. Pemain bulutangkis: etnis Cina. Bahkan Agnes Monica dan Leony pun kok ya dilahirkan sebagai Cina.  Kata teman saya…” Sayang.. ayu-ayu.. kok yo cino.”  (*halah, emang ada yang salah dengan cina? *)

Ada sebuah anekdot di kalangan gembala kambing di desa saya,

“Apakah sesuatu, yang jika dilihat dari jauh tampak seperti orang, tetapi setelah dekat ternyata bukan orang?:”.

Jawabnya adalah ‘CINA‘. Lho kok bisa??!

Bagi anda yang pernah bergaul dengan kaum proletar, tukang becak dan kuli bangunan, suatu ketika melihat seorang wanita berjalan dari jauh dengan bodi ramping akan berujar:

“Ssst..stt..eh… ada orang tuh… perempuan cakep.. rambutnya lurus”

Setelah beberapa saat sosok tersebut berjalan semakin dekat, dan ternyata adalah seorang perempuan Cina, maka selanjutnya terdengar keluhan

“Ealaaaah…. tibak-e cino“.

Entah, masih berlakuk atau tidak anekdot jadul ini di kalangan teman-teman kita itu. Omong-omong, pernahkan anda temukan, seorang cina yang memiliki rambut keriting?

Dulu bahkan muncul sebuah merek elektronik pesaing National, khususnya audio, yaitu ‘TELESONIC’. Angkatan tua pasti tau. Tetapi coba cara membaca merek tersebut dari belakang, huruf per huruf.

Pembaca, saya tidak hendak mencoba menggugat keberadaan etnis China. Saya hanya menyajikan sedikit ingatan saya tentang sosok CHINA dengan segala perniknya yang tidak pernah lepas dengan kehidupan sehari-hari kita. Sangat banyak orang cina yang justru pintar bahasa Jawa kromo inggil. Sedangkan anak-anak jawa sendiri justru merasa minder jika menggunakan bahasa jawa. Yang sekarang ada justru membanjirnya peserta kursus bahasa mandarin.

Beberapa fakta tentang serba-serbi Cina:

Orang Cina juga berjasa buat negeri ini.
Banyak jasa yang telah ditorehkan oleh etnis ini, baik diakui maupun hanya numpang lewat. Tercatat So Hok Gie, sebagai sosok panutan mahasiswa. Kwik Kian Gie ekonom yang nasionalis. Susi Susanti olahragawan. Masih banyak lagi. Untuk tokoh2 china di politk dan di masa perjuangan era pemerintahan Soekarno, tanyakan pakarnya.

Produk Cina = Murah
Banyak produk baik tiruan maupuan bajakan yang dibuat di China. Jika ada ponsel NOKIA, maka di china ada NOKLA, Jika ada apple iPhone, di china ada appel (e)lPhone. Bahkan laptop Compaq menjadi Conpag.

Warung banyak dikunjungi Cina = Enak dan murah
Ini yang agak lucu. Adanya teori yang diakui kebenarannya di beberapa kalangan bahwa, jika anda menemukan sebuah warung kecil yang dipenuhi pembeli dengan etnis Cina, maka hampir bisa dipastikan warung tersebut enak dan murah. Benar atau tidaknya, silakan dicari kebenarannya.

Orang Madura ternyata selangkah lebih maju dari orang Cina
Di Indonesia hanya orang Maduralah yang behasil lebih sukses dari orang Cina. Orang Madura selalu ’selangkah lebih maju’ dari orang Cina. Buktinya, dimana ada ruko orang Cina, maka selangkah di depannya, di trotoar, ada orang Madura jualan sebagai PKL. Hebat.

Anda menemukan fakta lainnya?

*

Catatan yg mungkin terkait:


230 views

3 Responses to “China berembun

  • 1
    sluman slumun slamet
    July 16th, 2008 12:10

    jan ngakak thok….
    kalau etnis china sendiri lebih sreg disebut etnis tionghoa. kenapa? karena kata china atai cina cenderung lebih berarti konotatif.
    saya justru salut dengan saudara kita etnis tionghoa ini. ketika saya di bandara, saya sering dengar cuap-cuap mereka pakai bahasa jawa medok… bahkan seringkali setelah telpon pake bahasa china, terima telpon berikutnya pakai jawa ndeso….
    lihat saudara kita etnik jawa… terkadang baru sebulan di jakarta saja sudah lue gue… tak jarang malah LKMD-an (Londo Kok Mung nDase) hehehehehhee……….
    :D

  • 2
    mantan kyai
    July 16th, 2008 15:17

    jangkriiik … nek iki bener2 membumi postingane. Tapi sayang aku yo turunan Cino :D

  • 3
    Embun
    July 16th, 2008 18:36

    @mas slamet
    saya pernah nanya ke seseorang di kereta api, ‘Kerja dimana mbak?”
    Dia jawab, “Gua barusan kerja di Bekasi. Susah neh mikirin keluarge. Udah 4 bulan di Jakarte ini” (Diucapkan dengan dialek betawi, tetapi logat medok jawa)

    Lalu saya tanya:”Lhah, ini sekarang mbak tujuan mana?”
    Dia jawab, “Gw mah lagi pengen mudik, ke Trenggalek”
    -Gubrak!!!-….
    (’Oooalah.. nduk, wong Trenggalek toh???’)
    *senyum2 iblis*

    @mantan kyai
    Cino/Jowo ra onok bedane mas… podho mangan sego.

Leave a Reply

bipang

230 views