Akupun diperkosa, berembun

Jaman dulu, sebelum musim komputer, untuk membuat ketikan rangkap dua atau lebih, dibutuhkan kertas duplikasi yang sering orang menamakannya kertas karbon. Mungkin paman kita tahu hal itu.

Kini, seiring dengan teknologi yang berkembang dengan munculnya kotak ajaib yang dinamakan komputer, proses penggandaan menjadi sesuatu hal yang sepele. Orang jawa bilang, “suwe mijet wohing ranti“. Artinya, begitu gampangnya hingga terasa begitu cepat, sampai-sampai memecah buah ranti (bahasa Indonesianya apa ya?) masih terasa lama, padahal buah ranti itu sekali pencet langsung pecah (paling tidak menurut cerita emak saya).
Proses penggandaan (duplicate/clone) itu bisa jadi merupakan penggandaan obyek dalam suatu dokumen maupun penggandaan pada media terpisah. Pada media terpisah dibutuhkan sarana Hardisk, Flashdisk, Disket, dan lain-lain. Sedangkan penggandaan obyek pada suatu dokumen, dikenal dengan istilah copy-paste.

smallPada dunia pageblogan, peristiwa ini sering terjadi. Seperti kasus yang terjadi pada Sarah yang dibahas oleh venus dan cerita mbakyu Mohan, ternyata saya pun terkena imbasnya, tepatnya ikut menjadi korban. Korban suatu teknologi beru di bidang penggandaan yang dinamakan copy-and-paste.

Dengan adanya teknologi tersebut, sangat mudah orang mengutip sebagian atau pada pokoknya suatu tulisan orang lain dengan hanya membutuhkan dua atau tiga perintah saja.

Saya tidak tahu motivasi sang pengutip, apakah sekedar mengisi jurnal di websitenya, ataukah menilai bahwa tulisan saya menarik sehingga harus di simpan di arsipnya, entahlah. Yang saya temui hanyalah kutipan itu tanpa ada sumbernya. Saya tidak menemukan tautan yang merujuk ke tulisan saya.

Adakah yang dapat memberitahu saya, pada halaman tersebut, dimanakah terdapat rujukan ke tulisan asli ini?

Mungkin sang pencomot adalah seorang yang masih awam dan baru ingin belajar menjadi jurnalis. Ternyata, tulisan saya yang tanpa arti ini, masih juga dirasa layak untuk di kopi-pas. Hmm, orang tersebut masih belum sadar diri rupanya.

Kalau menuruti hati, saya layak untuk marah. Tetapi belajar dari kearifan seorang ndoro dan kampiun, saya harus bisa menahan diri.

Inikah potret bangsaku? bangsa kere dan bangsa yang hanya bisa menjiplak? Semoga ini tidak terjadi dalam kasus blue-energy yang sedang hangat digembar-gemborkan.

Catatan yg mungkin terkait:


1,003 views

2 Responses to “Akupun diperkosa, berembun

Leave a Reply

klanthing

1,003 views