Negeri Damai
05.Feb.2010 | By WongBagus | Category: Opini | Reader: 594 |“BERDIRI!!”
Masih segar dalam ingatan saat tiga puluhan siswa berdiri serempak kemudian sang ketua kelas berteriak lantang dan diikuti seluruh kelas, “PANCASILAA… Satu.. KeTuhanan Yang Maha Esa.. , Dua.. Kemanusiaan yang adil dan beradab.. Tiga…. “.
Setelah kalimat sila ke lima selesai digemakan… lantas bersama-sama para siswa tersebut menghormat ke bendera merah putih yang sudah mulai lusuh di pojok kelas. Saya ada diantara mereka, 25 tahun yang lalu.

upacara bendera
Kini setelah generasi murid-murid itu beranjak menua dan uzur, tunas-tunas muda mulai menggeliat tumbuh. Tetapi tak lagi terdengar koor melantunkan ‘Indonesia Raya’ tiap hari senin… tak terdengar lagi pembacaan ‘Pembukaan UUD 1945′. Bendera merah-putihpun entah berada di tumpukan mana di dalam lemari.
Maka, ketika kita melihat tayangan di koran dan televisi, janganlah masygul jika melihat polah tingkah politisi dan aksi demonstrasi. Atas nama generasi muda, atas nama idealisme, atas nama demokrasi… kerbaupun tak lagi berkubang di kali… kerbaupun bingung dan heran diantara demonstran.
Telah mereka hapus etika, telah mereka hapus norma, telah mereka binasakah sejarah dan tata krama… Simbol negara sudah tak dihormati, foto presiden dibakar, foto menteri diinjak dan diludahi, bendera MERAH PUTIH coba diturunkan (walau untuk setengah tiang). Tayangan itu segera menyebar ke seluruh dunia lewat televisi dan internet. Dan duniapun mafum, (mungkin juga tertawa) melihat kita bangsa Indonesia tak lagi menghargai negara kita sendiri. Itukah cara demonstrasi kaum terdidik ???? Tak ada lagikah cara yang lebih intelek?
Saya masih ingat syair dalam lagu ‘Berkibarlah benderaku’ cipt mendiang Ibu Sud.
Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membelaSang Merah Putih yang perwira
Berkibarlah s’lama lamanya
Tanyalah pada para pendemo itu, sila-sila dalam Pancasila.. tanyalah mereka isi Sumpah Pemuda… tanyalah pada mereka, tentang sosok Soebandrio, Amir Syarifuddi, St. Syahrir, Moh. Yamin.. apalagi, Tengku Cik Ditiro, atau Sentot Alibasah Prawirdirdjo. Bisa-bisa mengerinyit dahi mereka… atau justru berkata Pancasila Cuih!
“Nasionalisme tidak harus dengan mengangkat senjata atau sekedar upacara bendera. Nasionalisme bisa dengan cara memberantas korupsi, berprestasi dalam olah raga dan kesenian, menjadi ilmuwan di negeri orang, menjadi generasi yang kritis atau dengan cara demonstrasi…. ” Itu dalih mereka. Dan itu memang benar, tetapi mereka lupa… lupa bahwa negeri ini dapat tegak bediri karena sejarah, keringat dan air mata.
Di lain waktu ada yang bilang, “Jika tidak mau dikritik jangan jadi pemimpin…”. Lantas memang sungguh enak jadi jelata, bisa berteriak semaunya tanpa aturan dan takut didenda, karena mereka sedang berdemo, katanya.
Sepotong film ini mungkin bisa menjadi refleksi.

kerbau itu

demonstrasi
Maafkan kami pahlawan, maafkan kami…!! kami tak lagi mampu menjaga harga diri negeri yang kami warisi….. maaf !! Aku hanya mampu berdiri dan terbata-bata… maaf.
foto-foto: jackgonggoaja.dagdigdug.com, dwikisetiyawan.wordpress.com, beritafenomenal.wordpress.com


