Surabaya Sue
10.Nov.2007 | By Embun | Category: Buku, Potret, Sejarah, Tahukah anda | Reader: 1,854 |Momen 10 Nopember, di Surabaya mempunyai arti tersendiri karena hari ini diperingati sebagai hari Pahlawan. Hari ini, tahun 1945 berkobar perang yang sangat heroik, dimana tentara Inggris menjatuhkan bom selama tiga hari tiga malam dengan asumsi bisa membuat tentara Indonesia (TKR) menyerah. Namun justru perlawanan sengit yang didapat. Tentara NICA yang awalnya ingin mengejutkan dan mencoba menguasai kembali Indonesia dibuat terkejut dan akhirnya memaksa gencatan senjata di meja perundingan dengan pemimpin Indonsia.
Ada penggalan cerita yang perlu kita ketahui, dari sebuah buku. Berikut kisahnya.
…
Teman baruku itu menepuk pundakku.
“Teman-teman senegara dengan anda akan memasuki Surabaya” katanya
“Kudengar Inggris masih berkumpul di pelabuhan”, kataku
“Ya, aku tahu. mereka menunggu datangnya bala bantuan Belanda. Tiga hari lagi orang-orang Indonesia akan sangat terkejut. Mudah-mudahan anda bisa menyaksikan keasyikan itu”
“Tetapi kalau ingin mengejutkan orang-orang Indonesia saat ini, hal itu harus benar-benar hebat”, kataku memancing.
“Yah, memang rencana aksi ni besar”Lalu diambilnya rencana pengurungan orang Indonesia di Surabaya dari kantong jasnya. Menurut rencana itu, pasukan Inggris akan berbaris satu persau dari pelabuhan Tanjung Perak hingga Jembatan Merah. Dari situ mereka berpencar membentuk dua barisan. Yang satu memasuki kota dari timur, sedang satu lagi dari barat, di suatu tempat di depan pertahanan tentara Indonesia.
“Pasukan Indonesia tidak akan bisa mundur, sedang majupun juga tidak mungkin” katanya sambil tertawa, “Mereka hanya bisa surrender”
“Rencana hebat!” kataku sambil menatap kertas yang memuat rencana itu. Kupaksakan diriku mengingat segala rinciannya. Itu tidak terlalu sulit, karena aku sudah mengenal baik kota Surabaya. “Bagus sekali — mudah-mudahan saja berhasil”, sahutku.“O.. itu pasti” katanya sambil minum terus. Aku sebetulnya berharap bahwa ia akan minggalkan kertas rencana itu tergeletak di meja. Tetapi ia belum semabuk itu. Kertas itu dikembalikannya ke dalam kantong.
“Dari mana anda memperoleh rencana aksi Inggris itu?” tanyaku.Dengan meringis sok tahu, ia menjawab ” Kami punya orang untuk itu. Lagipula semua perwira Belanda yang berada di kota Surabaya sudah bersiap-siap menunggu masuknya tentara Inggris. Kami tahu apa yang terjadi”
Malam itu aku “jatuh sakit”. Aku minta pelayan kamar menelepon dokter. ‘Dokter’ku datang dengan segera, lengkap dengan tas hitamnya. Kusampaikan padanya rencana pendudukan Inggris. Kugambar rencana itu berdasar ingatanku. Dokter mendengar keteranganku dengan serius. Ketika aku selesai dengan laporanku, ia cepat-cepat minta diri lagi.
“Kau harus tetap di tempat tidur sampai aku datang lagi,” katanya memberi instruksi. Ia hendak memberitahu tentara Republik Indonesia. …….. (cit halaman 218)
Di halaman lain kita bisa temui juga kisah yang patut diketahui,
“…Aku akan tinggal di tempat pemancar radio gelap yang dikelola oleh Bung Tomo, pemimpin pejuang di Surabaya. Dari tempat itu Bung Tomo mengadakan siaran dua kali setiap malam. Pemancar itu bernama Radio Pemberontakan, dan lokasinya tersembunyi dalam sebuah rumah besar yang letakknya tidak jauh dari gedung pemancar resmi, Radio Surabaya…. Tetapi apabila Radio Pemberontakan sampai kena bom atau digerebek, kami masih memiliki pemancar-pemancar rahasia lainnya di seluruh Jawa Timur…..aku diharapkan akan mengadakan siaran dua kali semalam dalam bahasa Inggris. Tujuan tugasku untuk menyampaikan laporan perkembangan yang terjadi di Indonesia pada bangsa-bangsa yang berbahasa Inggeris di seluruh dunia, dari sudut pandang bangsa Indonesia.” (cit hal 222)
…
“…aku bertemu dengan Soetomo, yang termasyhur dengan nama Bung Tomo. Sejak awal aku langsung cocok dengannya. Orangnya ramah, tampan, berubuh kecil. Umurnya saat itu palng banyak baru 26 tahun. Tindak tanduknya menarik, selalu sederhana dan jujur. Sinar matanya berkilat-kilat penuh semangat. Kemahirannya berpidato hanya bisa dikalahkan oleh presiden Soekarno. Bagiku jelas, Bung Tomo sangat berbakti pada perjuangan…” (cit hal 223)
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Itu sekelumit cerita yang saya sadur dari buku otobiografi K’tut Tantri yang dalam bahasa Indonesia berjudul “Revolusi di Nusa Damai“. Judul buku ini dalam bahasa inggeris adalah ‘Revolt in Paradise‘. K’tut Tantri, demikian nama yang dia dapatkan dari raja Klungkung, Bali, warga Amerika kelahiran Inggris yang bernama asli Muriel Pearson sesungguhnya adalah orang yang sangat-sangat berjasa bagi Indonesia, khususnya Surabaya. Tanpa dia, mungkin cerita Hari Pahlawan tidak pernah terjadi, dimana rakyat Surabaya benar-benar melakukan perlawanan sengit, hingga tewasnya jenderal Mallaby. Ktut Tantrilah yang berhasil menguak rencana sekutu, sehingga tentara Indonesia bisa bersiap menghadapinya. Dan lahirlah pidato heroik dari Bung Tomo yang terkenal itu.
Buku ini awalnya diterbitkan oleh Gunung Agung 1960, dan Gramedia kembali menerbitkan ulang pada tahun 2005, dengan cetakan kedua Agustus 2006. Waktu masih SMP, saya sempat membaca tjetakan pertama dari CV Goenoeng Agoeng, tahoen 1960 milik paman saya.
Saya sungguh kagum dengan kegigihan seorang Tantri, yang begitu mencintai negeri kita Indonesia ini. Dia dengan gagah berani ikut terlibat dalam revolusi di negeri ini, bahkan sampai menjadi tahanan Jepang karena dikira nonik Belanda. Lalu dengan modal bahasa Inggerisnya, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bisa tersiar ke luar negeri melewati barikade yang dibangun oleh Belanda.
Saya sangat terharu. Seandainya waktu itu pesan Prokalamasi tidak berhasil melewati barikade Belanda, mungkin kemerdekaa Indonesia tidak pernah tersiar dan tidak dianggap berdaulat penuh, melainkan mendapat kemerdekaan dari Belanda.
Ah, sekarang banyak diantara bangsa Indonesia ini, yang sudah merasakan kemerdekaan, melek huruf, bisa akses internet, tidak pernah lagi mengenal sosok K’tut Tatri. Lihatlah apa yang dia katakan, “Mungkin saja orang Indonesia akan melupakan diriku apabila negera itu sudah benar-benar merdeka. Kenapa tidak? Aku kan hanya ombak kecil di tengah alun banjir semangat kemerdekaan” (h.355). Oh, Surabaya Sue. Begitu cintanya engkau terhadap negeriku ini. Bahkan Jay, yang dalam blognya biasanya lengkap ketika membuat artikel dan rujukan, juga terlewat tentang sosok perempuan hebat ini.
Masih ingatkah anda, dalam sejarah Indonesia tercatat bahwa negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia pasca Proklamasi adalah 7 negara Arab. Pesan pengakuan kedaulatan itu dibawa oleh Mr. Monem dari Mesir. Namun, pernahkan tercatat bagaimana Mr Monem bisa datang ke Yogya untuk menyerahkan pesan itu kepada presiden Soekarno.
Disini kembali, peran Ktut Tantri yang luar biasa, ia berjasa menembus blokade Belanda dan menghantar seroang Mr Monem kepada Presiden RI.
Kini, ketika melihat generasi muda kita yang semakin terpuruk dalam pendidikannya dan terjerumus narkoba, saya sangat sedih. Orang Amerika saja bisa mencintai Indonesia begitu rupa, mengapa kita tidak bisa? Justru mencomooh, mencaci bangsa sendiri, tidak bangga sama sekali, bahkan kalau perlu semua hutan dibabat, dan semua harta kekayaan dikorupsi. Inikah Indonesia yang dulu direbut dengan ceceran darah ribuan bahkan jutaan rakyat Indonesia? TRAGIS. Mungkin akan lebih baik menggombal dan berdiri sebagai orang bijak seperti paman kita.
Ktut Tantri akhirnya meninggal di Sydney pada 27 Juli 1997. Beliau minta tetap ditulis sebagai Ktut Tantri dan bukannya Muriel Pearson. Setelah dikremasi, abunya dibawa ke Bali dan dilarung ke laut bali, di Nusa Damai.
Ah, terlalu banyak hal yang saya banggakan terhadap sosok Ktut Tantri. Semoga buku-buku sejarah nasional Indonesia, kelak memasukkan tokoh ini sebagai pahlawan nasional seperti halnya Eduard Douwes Dekker, yang lebih menyukai dipanggil Multatuli.
Merdeka.
Saya berencana ingin menulis tentang cerita kepahlawanan ini. Kelak dengan menyebut Ktut Tantri, Soetomo dan Ruslan Abdulgani sebagai aktor utamanya, tapi sekedar Blog.
Buku ini wajib baca bagi generasi muda Indonesia yang ingin tahu tentang sejarahnya.
Posting-posting tentang buku Revolt in Paradise dan seputar kejadian 10 Nopember 1945 ada disini:
Link 1 = Sentirpitu
Link 2 = Wong Suroboyo
Link 3 = Bung Tanzil
Link 4 = Budi
Link 5 = Wiki
lagu: Kedamaian-kedamain (Gombloh)
gambar: comotan dari bung Tanzil (karena belum punya scanner)
UPDATE:: Jika Ketut Tantri berhasil menjadi corong kemerdekaan RI pertama ke luar negeri, maka Riwu-Ga adalah corong kemerdekaan RI dalam negeri yang pertama.






Jaman SMP saya engga sempat baca buku ini, dan terlupakan sampai baca tulisan ini. Ternyata dicetak ulang juga.
*siap-siap ke toko buku*
Merdeka™
@Jay:
Aku juga tahu buku itu kebetulan karena bongkar-bongkar di rak buku paman. Ketika ada cetak ulang langsung embat di toko buku.
@aLe:
Tetap Merdeka™
saya baru selesai baca buku nya
thnks dah sharing ya
buku yang bagus..saya baca buku ini tahun 2007…sayang banget, figur seperti Ktut Tantri hilang begitu saja dalam catatan sejarah indonesia..bahkan kita tidak pernah menemukan namanya tercantum dalam pelajaran sejarah di sekolah dulu…jadi wondering wajah aslinya ktut tantri seperti apa yah…?
– silakan lihat di http://dikigoros.t35.com/frauen/tantri.htm. tetapi beliau sudah meninggal. –
saya baru mengetahui kalau pemancar gelap bung Tomo ada di jl.Mawar 10 Surabaya (cagar budaya)
padahal tahun 60an pernah aku kunjungi berhari2 dulu sebagai mess karyawan staff PTPN sby)
ysbhakti saat ini menulis.. SEKILAS SURABAYA KOTAKU DI MASA LALU