Diagonal Advertising Banner Design

Seikat bunga untuk bunda

13.Sep.2009 | By WongBagus | Category: Renungan | Reader: 478 |

Tadi malam ibu menelepon, mengingatkan aku bahwa besok ia berulang tahun. Tentu saja aku tak pernah lupa.  Kalau ngomong soal ibu, aku selalu teringat kisah Pau Casals i Defillo, alias Pablo Casals, musikus Spanyol yang juga dikenal sebagai konduktor handal.

Dalam buku ‘Wisdom’, ia menceritakan bagaimana dulu ayahnya melarang dirinya bermain musik karena sebagai seniman hidupnya pasti tak bakal terjamin. Maklum mereka adalah keluarga miskin. Itulah sebabnya sang ayah menginginkannya menjadi pengusaha agar bisa kaya.

Beruntung sang ibu membela, “Bocah  ini adalah hadiah Tuhan dan tugas kita sebagai orangtua menuruti keinginannya..” Di tengah keterbatasa hidupnya, sang ibu membanting tulang demi mewujudkan cita-cita sang anak.

Beruntung aku juga memiliki ibu seperti itu. Bagiku ia lentera hidupku, benteng gading, pohon suka citaku dan bejana yang patut dihormati.

bunga

bunga

Pagi ini saat berangkat ke kantor, aku mampir ke sebuah toko bunga, memesan sebuah buket bunga untuk dikirimkan ke Yogya sebagai ucapan ultah ibu. Di trotoar depan toko bunga itu, pandanganku terantuk pada seorang gadis cilik yang sedang terisak menangis. Kutanya mengapa, ia menjawab lirih “Saya ingin membeli seikat bunga mawar merah untuk mama, namun uang saya ndak cukup.”

“Oh begitu.. baik, mari masuk, akan kubelikan bunga yang kau inginkan” jawabku sambil menggandengnya masuk toko. Setelah membelikan gadis itu seikat mawar merah, aku memesan bunga dan memberikan catatan alamat rumah ibuku.

Merasa iba, kutawarkan pada gadis cilik itu untuk mengantarnya pulang. Ia  mengangguk, “Baik pak.. terima kasih mau mengantarkan saya”.  Di luar dugaan, ia menunjukkan jalan menuju ke sebuah pemakaman. Sesampainya di sana, ia meletakkan bunganya diatas gundukan tanah merah yang masih baru.

Melihat pemandangan ini hatiku terharu sekaligus juga teriris. Di punggung gadis cilik yang sedang bersimpuh di depan pusara itu tampak sekelebat bayangan renta wajah ibuku, sendirian nun jauh di rumah Yogya sana.

Selepas mengantarkan gadis tersebut, aku bergegas kembali ke toko bunga. Tanpa pikir panjang kubatalkan pesanan kiriman bunga. Sebagai gantinya kubeli sebuah buket bunga yang paling bagus. Sambil menelepon kantor minta cuti satu hari, lantas tancap gas menuju bandara. Akan kuantar sendiri bunga untuk ibu.

Masihkah anda bisa menyisihkan waktu demi ibunda di kampung?

(intisari 532 p.182)

Bookmark and Share this article

Tags: , ,

Perlu juga dibaca:

Leave Comment

CommentLuv Enabled

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word