Diagonal Advertising Banner Design

Burung Merak telah lenyap, lesap

07.Aug.2009 | By WongBagus | Category: Opini, Potret | Reader: 616 |

Mengkin anda sudah pernah mendengar lagu ini, atau minimal pernah terngiang di telinga anda secara tidak sengaja. Jika belum coba dengarkan lagu ini, dan cermati lirik berikut ini:

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Aku mendengar suara jerit makhluk terluka
luka..luka hidupnya luka
Orang memanah rembulan, burung sirna sarangnya
sirna… sirna.
hidup redup alam semesta luka

banyak orang hilang nafkahnya
aku bernyanyi menjadi saksi
banyak orang dirampas haknya
aku bernyanyi menjadi saksi

mereka dihinakan tanpa daya
ya, tanpa daya, terbiasa hidup sangsi

orang-orang harus dibangunkan
aku bernyanyi menjadi saksi
kenyataan harus dikabarkan
aku bernyanyi menjadi saksi

lagu ini jeritan jiwa
hidup bersama harus dijaga
lagu ini harapan sukma
hidup yang layak harus dibela

Lagu ini berjudul Kesaksian, yang dinyanyikan secara penuh emosi dan perenungan mendalam oleh Iwan Fals. Lagu yang bercerita tentang carut-marutnya hukum di negeri ini, ketertindasan masyarakat kaum proletar oleh sistem, oleh kapital. Coba anda dengarkan beberapa kali dan resapi makna yang terkandung dalam lagu itu, rasakan ruh/jiwa yang ikut larut dalam puisi yang dilagukan tersebut. Anda akan merasakan hal yang sama dengan saya. Merinding, tercekat! (itu jika anda tercekat, jika tidak berarti daya khayal kita memang berbeda)

Willibrordus Surendrabroto

Willibrordus Surendrabroto

Saya tidak hendak membahas lagu itu terlalu dalam. Namun saya mencoba berbagi sedikit tentang seseorang yang telah mampu menorehkan sebuah puisi yang begitu menggetarkan jiwa (minimal jiwa saya). Seorang yang begitu sederhana secara nyatanya, namun bergolak dan memberontak dalam setiap karyanya.

“mas Willy…” begitu orang sering memanggilnya.. “WS Rendra” orang lebih mengenal namanya. Nama itu hasil singkatan dari Willibrordus Surendra Broto. Seorang pemuda kelahiran Solo namun lebih kental rasa Yogyakarta berkat “Bengkel Teater” nya. Penyair, budayawan, kritikus ulung yang tidak pernah mengenal rasa takut.

Saya tidak mengenal beliau, apalagi sang penyair pujangga besar itu. Bahkan mendengar nama sayapun, mimpipun ia tidak. Saya tahu sosok beliau hanya lewat koran, majalah dan beberapa syairnya saja. Melalui lagu ‘Kesaksian ‘ diatas, saya agak mulai memperhatikan sang penyair ini. Mungkin salah satu sahabatnya bisa lebih bercerita banyak tentang sosok budayawan ini.

Namun ketika iTunes saya memperdengarkan lagu Kesaksian kemarin malam, 6 Agustus 2009, sebuah sms masuk ke ponsel saya, sebuah pesan singkat muncul berasal dari message center Facebook mobile berbunyi “Selamat jalan WS Rendra..“.

Sontak saya langsung buka laptop dan mulai merambah beberapa situs berita tanah air. Dan memang benarlah, penyair berjuluk ‘Si Burung Merak’ itu telah berpulang ke hadirat Illahi. Perjuangannya telah usai dan ia telah menyingkir dari hiruk-pikuk dunia yang semakin tua ini. Ia meninggal pada usia 74 tahun kurang 3 bulan, setelah berkutat dengan penyakit kanker yang menggerogotinya.

Mengapa ia dipanggil dengan julukan si Burung Merak (The Peacock)? Sekelumit kisahnya dapat dibaca disini. Ia dilahirkan dalam lingkungan keluarga Katholik, namun akhirnya ia meninggal dalam keyakinan Islam. Itu soal lain dan tidak usah diperdebatkan dan memang tidak perlu.

Seorang musisi besar, penyanyi sekaligus pencipta lagu yang menjadi idola saya, Iwan Fals, mendedikasikan sebuah lagu untuk menggambarkan betapa besarnya peran budayawan WS Rendra ini dalam setiap lagu-lagunya. Sebagian besar orang tidaklah asing dengan lagu “Willy”. Disini Iwan Fals begitu mengagumi sang Burung Merak. Lihat saja lirknya yang begitu sarat dengan pujian:

Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.

Si anjing liar dari Jogjakarta
Apa kabarmu ?
Kurindu gonggongmu
Yang keras hantam cadas

Si kuda binal dari Jogjakarta
Sehatkah dirimu ?
Kurindu ringkikmu
Yang genit memaki onar

Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?

Si mata elang dari Jogjakarta
Resahkah kamu ?
Kurindu sorot matamu
Yang tajam belah malam

Di mana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?

Masih sukakah kau mendengar ?
Dengus nafas saudara kita yang terkapar
Masih sukakah kau melihat ?
Butir keringat kaum (orang) kecil
yang terjerat oleh slogan slogan manis sang hati laknat
oleh janji-janji muluk tanpa bukti

Di mana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?
Di mana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?

Selamat jalan Burung Merak, selamat jalan Willy, karyamu tetap abadi. Semoga masih ada anak muda generasi modern saat ini yang masih setia mewarisi semangatmu dalam kritik sosial di negeri ini.

Semua hak cipta lagu dan lirik
ada pada Iwan Fals dan Kantata Takwa.
Lagu sudah mengalami proses reduksi
untuk keperluan posting.


Bookmark and Share this article

Tags: , , ,

Perlu juga dibaca:

Leave Comment

CommentLuv Enabled

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word