Phonetic Alphabeth
18.Nov.2008 | By WongBagus | Category: Sejarah, Tahukah anda | Reader: 1,369 |Pelafalan huruf dalam komunikasi radio maupun telepon, seperti Alfa, Bravo, Charlie, dst., disebut sebagai international radiotelephony spelling alphabet. Daftar kode spelling yang ada sekarang, diadopsi secara resmi pertama kali oleh ITU (International Telecommunication Union) pada tahun 1927.
Kualitas audio suatu alat komunikasi baik itu lewat kabel ataupun non-kabel (wireless) sangat tergantung kualitas media hantar dan kualitas audio dari alat komunikasi itu sendiri.
Dalam komunikasi radio atau telepon, seringkali satu atau dua huruf yang terdengar mirip dalam pelafalannya. Contohnya bunyi lafal untuk huruf (D) “De” hampir mirip dengan bunyi lafal huruf (B) “Be” dan (G) “Ge”.
Untuk itulah dalam dunia komunikasi lewat udara, pihak yang terlibat dalam pembicaraan sering menggunakan kata/bunyi yang diawali oleh huruf yang dilafalkan. Hal ini pada awalnya dipergunakan dalam komunikasi radio antar personil militer dan untuk dunia penerbangan. Secara resmi disebut sebagai international radiotelephony spelling alphabet.
Kadang, ketika anda sedang numpang pesawat, terdengar komunikasi antara pilot dengan petugas ground-control “Golf is current, please coming” dan dijawab dengan “We have a lot of Whiskey“. Bagi orang awam mungkin bisa mengerenyitkan dahi, kenapa saat mau mendarat kok malah diskusi olahraga dan minuman keras ?!.
Padahal bisa saja kata ‘Golf’ yang diucapkan oleh petugas ground-control tersebut dimaksudkan sebagai ‘Ground’ dan ‘Whiskey’ yang diucapkan oleh pilot dimaksudkan sebagai ‘Woman’. Hal ini untuk mempermudah komunikasi antara pilot dengan bagian ground-control.
Adapun daftar bunyi huruf (phonetic alphabeth) yang disepakati secara internasional adalah sebagai berikut:
Setiap negara atau komunitas memiliki cara dan model bunyian huruf. Di Indonesia, (terutama di Surabaya) beberapa operator Taxi mempergunakan kata ‘nama kota‘ untuk membedakan bunyi satu huruf dari huruf lainnya.
Contohnya (B) ‘Be’ dilafalkan dengan ‘Bandung’, ‘Jakarta’ untuk (Je), ‘Magelang’ untuk (eM). Hal ini sangat mempermudah pembicaraan antara supir taxi dengan operator khususnya dalam mencari alamat di perumahan yang terdiri dari blok dan kavling. Namun kekurangannya adalah, Indonesia susah menemukan nama kota dengan awalan ‘Q’, ‘H’, ‘X’ dan ‘Z’.
Untuk hal itu, biasanya supir taxi melafalkan ‘Qediri’ untuk (Qiu), ‘Hajibarang’ untuk (Ha), ‘Xalatiga’ untuk (eX) dan ‘Zombang’ untuk (Zet). Setengah memaksa sih.. tetapi terbukti efektif.
Lengkapnya adalah Ambon, Bandung, Cimahi, Ende, Fakfak, Garut, Hajibarang, Indramayu, Jakarta, Kendal, Lamongan, Magelang, Nganjuk, Ogan, Pacitan, Qediri, Rembang, Solo, Tuban, Ungaran, Vikeke (viqueque), Wonogiri, Xalatiga, Yogja, Zombang.
“Tolong jemput customer di Perumahan Bumi Pondok Mertua Indah blok Qediri Zombang nomor 23 Cimahi“. Itulah salah satu cara operator untuk merunjuk ke alamat rumah blok QZ-23C
“Informasi dikopi… lambung 371 meluncur ke lokasi.” sahut bapak sopir.
Kode bunyi huruf ini, di Indonesia sangat terkenal di kalangan pengguna radio komunikasi dan mengalami puncaknya saat ada teknologi Interkom sekitar pertengahan 80′an.
“Contact…contact.. disini ada Wai-Bi (YB – Young Boy : red) mau bergabung… apakah mbak Yuni ada?” tanya seseorang.
Terdengar jawaban di seberang “Maaf… mbak Yuni sedang di Kilo-Mike (KM – Kamar Mandi : red) gitu.. rojer !!”
Pada mulanya konsep huruf yang berbunyi ini memang dipergunakan sebagai cara mengeliminir kesulitan dengar pihak lawan bicara karena lemahnya kualitas audio. Mungkin suatu saat, apabila kualitas audio alat komunikasi semakin baik, tidak diperlukan lagi pelafalan huruf seperti ini.
Mungkin 5 atau 10 tahun lagi, ditemukan alat komunikasi udara yang berkualitas stereo atau bahkan surround, yang dapat membedakan bunyi huruf ‘De’ dengan ‘Ge’ atau ‘Pe’ dengan ‘Te’.
Saya hanya membayangkan, entah berapa masa lagi, ada suatu alat komunikasi penerima yang bisa menampilkan huruf di layar sesuai dengan huruf yang dilafalkan pengirim pesan. Misalkan lawan teman bicara melafalkan ‘eM-Aa-Te-Aa-eM-Uu’ maka di layar akan muncul ‘M.A.T.A.M.U’.. who knows?




[...] : Bahasa Indonesia : http://tetes-embun.org/?p=266 Deutsch & English : [...]
Xalatiga? Hahaha
** te: lha gak nemu ‘X’ je.. **