Rawon berembun
06.Nov.2008 | By WongBagus | Category: Kuliner | Reader: 1,887 |Siapa orangnya, yang berasal dari Jawa atau minimal pernah tinggal di tanah Jawa selama beberapa tahun, yang tidak mengenal makanan yang namanya Rawon. Saya rasa hampir semua orang pasti mengenal jenis makanan berkuah yang berwarna hitam ini.
Warna hitam rawon disebabkan oleh sebuah jenis buah-buahan pangi yang orang Jawa sering menyebut sebagai Kluwak (Pangium edule Reinw.). Buah ini memiliki kulit luar yang sangat keras. Cukup jelas dibahas di blog sebelah. Untuk membuka/menguliti dibutuhkan benturan/pukulan yang cukup telak. Ibu di rumah biasanya memakai anak cobek (aka. penguleg) untuk memukul. Padahal daging buahnya sendiri tidaklah keras, bahkan cenderung lunak. Kalau anda tahu coklat pasta yang disimpan di lemari pendingin dan membeku, ya seperti itulah.
Soal buah kluwak ini, dulu sempat dijadikan bahan olok-olokan untuk anak sebaya saya. Jika anak tersebut memiliki kulit yang legam, dan berminyak lantas kelihatan dekil, maka kami menyebutnya seperti Kluwak. Penyebutan Kluwak ini hampir mirip dengan Luwak. Tetapi jangan sampai salah, Luwak adalah jenis binatang sebangsa musang, yang suka mengerjar-ngejar ayam untuk dimangsa. Manfaat lain dari Kluwak dapat dibaca disini.
Kembali soal Rawon, penganan ini dapat ditemui dengan mudah hampir di seluruh pelosok Jawa. Namun jangan ditanya soal rasa, karena sampai saat ini saya belum pernah menemui SOP yang jelas dan belum pernah ada patokan dari lembaga SNI untuk soal rasa.
Jadi saya rasa sah-sah saja jika anda menemui di suatu daerah terdapat rawon yang manis, tetapi di daerah lain justru yang asin banget. Kadang anda menemui rawon dengan daging melimpah, namun tidak jarang ada rawon dengan isi daging bercampur manisah (labu siam), yang mana perbandingannya 1:4. Satu potong daging dicampur empat potong manisah. Bah! “Itu sayur manisah bumbu rawon” kata sepupu saya. Agar enak masih harus ditambah telor asin.
Di surabaya selain ‘Rawon Setan’ yang sudah cukup dikenal, masih ada depot rawon kesukaan saya. Teman-teman menyebutnya ‘Rawon Kalkulator’. Lokasinya di deretan belakang Taman Bungkul. Dagingnya cukup empuk, jarang terdapat gajih (lemak). Porsinya cukup dan pelayanannya sangat cepat (walau kadang kala keliru pesanan).
Mengapa dinamakan ‘Rawon Kalkulator’, hal ini tidak lain karena para pramusajinya sangat fasih dalam menghitung. Rata-rata proses penghitungan memakan waktu kurang dari 30 detik. Katakanlah anda datang makan berlima, pada waktu membayar, para pramusaji ini akan menghitung harga makanan anda semua ditambah dengan asesoris kerupuk dan lain-lain, ndak sampai 10 detik!! Silakan dibuktikan.
Jadi sebenarnya kita patut berbangga. Untuk menjadi ahli matematika (bukan ahli telematika) terutama dalam hal hitung-menghitung tambah-tambahan, tidak lagi diperlukan sekolah khusus artimatika. Cukup magang di warung rawon ini.
Berapakah 5 piring rawon ditambah 2 butir telor asin dan sepotong tempe goreng dengan minum 5 gelas Es Jeniper (jeruk nipis peres)? (jawaban ditunggu dalam 5 detik)






Saya suka sekali dengan Rawon Setan di Surabaya…bener2 maknyuss…wajib coba !
samapai sekarang kenapa yah lidah saya masih blm bisa bersahabat dengan rawon, saya baru coba yang di bogor sih, mungkin beda kali ya rasanya kalau di surabaya
pandu saat ini menulis.. Goodbye Gus Dur!
samapai sekarang kenapa yah lidah saya masih blm bisa bersahabat dengan rawon, saya baru coba yang di bogor sih, mungkin beda kali ya rasanya kalau di surabaya