0801271310 berembun
0801271310, ini bukanlah nomor ponsel cantik, melainkan deretan angka yang menandai meninggalnya mantan persiden RI yang ke dua, Jend. (Purn) H. M. Soeharto. Memang pada hari ini 2008 01 27, 13:10. mantan bapak pembangunan, presiden sekaligus diktator yang oleh dunia internasional dijuluki ’smiling general’ telah mangkat.
Mangkat berasal dari kata bahasa jawa yang berarti berangkat. Mangkat sama dengan budhal. Mangkat kerjo adalah berangkat kerja, Mangkat tandur adalah berangkat bercocok tanam dan sebagainya. Ketika seseorang meninggal, pada bebearapa tingkat sosial masyarakat adalah terlalu kasar jika dikatakan ‘mati’. Maka harus diperhalus menjadi mangkat, berangkat memulai perjalanan di alam sana.
Saya hanya ingin mencatat sisi positif Pak Harto, karena saya hidup bertumbuh pada masa pemerintahan beliau. Sedangkan sisi buruknya, saya tidaklah berkompeten karena saya memang tidak mengenal beliau terlalu dekat, sedangkan beliau sendiri belum pernah melihat muka saya yang katro.
Pak Harto bagi sebagian orang adalah pahlawan dan pengayom, tetapi bagi sebagian yang lain adalah musuh bebuyutan bahkan dianggap sang duratmoko (simbol angkara murka). Bagi masyarakat desa yang hanya tahu radio transistor mungkin sosok pak Harto bagaikan malaikat karena mereka merasa mendapat berbagai kemudahan hidup. Sembako murah, subsidi BBM, SD inpress, aman dan swasembada pangan. Tetapi di sisi lain banyaka yang memanfaatkan kekuasaan pak Harto untuk dirinya sendiri dengan cara-cara menjilat pantat atau ABS (asal bapak senang) dan sebagainya.
Hal inilah yang seringkali menyebabkan kita menjadi bangsa yang tidak memiliki lagi martabat. Dengan kondisi ini, bangsa Indonesia dilatih untuk selalu menjilat dan andhap asor kepada elit kekuasaan. Sudah hilang idealisme dan sifat kritis, terbuai oleh kenyamanan hidup semu. Tetapi justru itulah yang dirasakan sebagian masyarakat desa dan miskin yang merasa mendapat kenyamanan tersebut. Mereka tidak menyadari, biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapat kenyamanan tersebut, mulai dari kebebasan berpendapat, hak untuk pendidikan, menjadi bangsa bermental kere yang hidup dari hutang dan belas kasihan orang (negara) lain.
Ah rumit!™
Selamat Jalan pak Harto. Semoga berat amal kebaikan bapak tidaklah lebih ringan dibanding biaya yang harus dikeluarkan rahyat Indonesia selama kepemimpinan bapak. Semoga ‘timbangan akhirat’ masih lebih condong pada sisi kebaikan bapak.
Catatan yg mungkin terkait:
249 views